Kyai Hasyim Asy’ari Mempunyai Tujuh Istri, Benarkah?

Sumber: newsdetik.com

K.H Hasyim Asy’ari pernah menulis kitab khusus untuk membahas soal rumah tangga dan pernikahan dalam kitab Dlou’u al-Mishbah fi Bayani Ahkami an-Nikah (ضوء المصباح فى بيان أحكام النكاح). Lebih menarik lagi, kita mencoba mengulik kehidupan pribadi beliau tapi yang tentunya bisa dikonsumsi publik dan banyak hikmah yang dapat kita ambil yaitu tentang bagaimana hubungan rumah tangga beliau dan bagaimana perpektif beliau tentang rumah tangga yang ideal.

Banyak pertanyaan mengenai jumlah istri K.H Hasyim Asy’ari karena literatur yang ada masih simpang siur, ada literatur yang mengatakan jumlah istri beliau empat, ada pula yang menyebut tujuh dan ada yang mengatakan lebih dari itu. Sebenarnya bagaimana?

Menurut Dr. Mohammad Anang Firdaus selaku dosen dan Tim Pusat Kajian Pemikiran Hasyim Asy’ari menukil pernyataan dari Kiai Karim atau akarhanaf dalam buku Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Bapak Umat Islam Indonesia, istri K.H Hasyim Asy’ari sebanyak tujuh orang.

Sebagaimana kita ketahui K.H Hasyim menikah selepas dari mondok di Bangkalan pada usia 21 tahun. Beliau dijodohkan kiainya dengan Nyai Khodijah, putri Kiai Ya’qub dari Siwalanpanji, Sidoarjo. Kemudian Beliau mengajak istrinya untuk ibadah haji dan bermukim disana sehingga istrinya melahirkan putra pertama mereka bernama Abdullah meskipun pada akhirnya istri dan anaknya meninggal di Makkah. Beliau memutuskan kembali ke Indonesia, tepatnya di Keras dan ke kediaman mertuanya yatiu Kiai Ya’qub karena merasa tertekan karena ditinggal anak dan istrinya.

Pasa saat itu keluarga Siwalanpanji ikut merasa iba karena Nyai Khadijah meninggal di Makkah. Di mata Kiai Ya’qub ini, K.H Hasyim adalah seorang santri dengan segala kealimannya dan akan menjadi tokoh yang berpengaruh dengan masa depan yang cerah. Lantas sang ayah mertua merasa sayang untuk melepas K.H Hasyim begitu saja. Oleh karena itu, di versi keluarga Pondok Siwalanpanji K.H Hasyim Asy’ari dinikahkan lagi dengan Nyai Nafisah.

Didorong kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, maka K.H Hasyim Asy’ari Kembali ke Makkah untuk menuntaskan belajarnya, mulazamah kepada Syaikh Mahfudz. Pernikahan dengan Nyai Nafisah tidak bertahan lama dengan status dan penyebab yang belum diketahui dengan pasti.

Setelah lama di Makkah, K.H Hasyim sempat mengajar di Makkah selama tiga tahun. Namun, Kiai Asy’ari mengkhawatirkan anaknya, K.H Hasyim, yang tidak kunjung pulang ke tanah air dan menjadi syaikh di Makkah. Kekhawatiran ini disebabkan karena Kiai Asy’ari mempunyai pondok pesantren dan Kiai Hasyim adalah anak ketiga dari 11 bersaudara, salah satu anak yang dituakan dan diandalkan. Selain itu Desa Keras dan Cukir adalah sebuah wilayah yang belum tersentuh oleh dakwah. Maka Kiai Asyari menghubungi sahabatnya, Kiai Sholeh, di Pesantren Kemuning dan menikahkan Kiai Hasyim dengan Nyai Nafisah. Akan tetapi Nyai Nafisah meninggal di Tebuireng setelah dua tahun pernikahan dan mendirikan Pesantren Tebuireng tanpa meninggalkan anak.

Pernikahan keempat Kiai Hasyim adalah dengan Nyai Nafiqah, sosok luar biasa keturunan ningrat, putri pengasuh dari Kiai Ilyas di Sewulan, Madiun. Kiai Ilyas merupakan keturunan dari Ki Ageng Basyaria, seorang murid dari Kiai Hasan Besari di Ponorogo. Ki Ageng Basyaria atau Ki Bagus Harun adalah keturunan pejabat. Ki Bagus Harun lebih memilih untuk nyantri daripada mengikuti jejak ayahnya yang merupakan seorang adipati. Akan tetapi ternyata Ki Bagus Harus tidak dapat melepaskan diri dari tugas pemerintahan, jadi oleh gurunya ditugaskan untuk menjadi pengawal dan penasehat spriritual Pakualam II. Berkat jasanya yang melindungi dari serangan dari Mataram inilah Ki Bagus Harun mendapat gelar Ki Ageng Basyaria dan diberikan tanah perdikan di Sewulan, Madiun. Akhirnya Ki Bagus Harun menetap dan mendirikan Pondok Pesantren di Madiun. Nyai Nafiqah meninggal pada tahun 1920.

Setelah Nyai Nafiqah meninggal, K.H Hasyim Asy’ari menikah lagi dengan Nyai Masruroh. Nyai Masruroh adalah janda dua kali, suami pertamanya adalah Kiai Ihsan Jampes dan suami keduanya adalah Kiai Shodaqoh. Nyai Masruroh firoq dengan suami sebelumnya.

Pernikahan kali ini tidak disengaja oleh Kiai Hasyim mengingat bahwa Nyai Masruroh adalah mantan istri dari kawan dan juniornya yaitu Kiai Ihsan Jampes. Ketika itu disayembarakan karena posisi beliau sakit dan barang siapa yang dapat menyembuhkan sakitnya maka akan dinikahkah, akhirnya Kiai Hasyim kesana dan berhasil menyembuhkannya sehingga akhirnya dinikahkan.

Menurut buku Muassis NU karya Amirul Ulum, K.H Hasyim Asy’ari menikahi janda adiknya, Ma’shum yang bernama Nyai Amini. K.H Hasyim Asy’ari selain mempunyai anak kandung juga mempunyai lima anak tiri, empat orang dari Nyai Amini yaitu Syarofah, Ali, Nafisah dan Ulyatun, serta satu anak dari Nyai Masruroh.

Selain enam istri yang telah disebutkan, masih terdapat satu istri yang masih belum diketahui dan menjadi misteri. Di dalam buku yang dikarang akarhanaf atau Kiai Karim tidak menyebutkan secara terperinci nama-nama istri Kiai Hasyim hanya menyebutkan jumlahnya sebanyak tujuh.

 

Narasumber:     Dr. Mohammad Anang Firdaus, M.Pd.I (Dosen & Tim Pusat Kajian Pemikiran Hasyim Asy’ari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.