Puasa (Al-Imsak)

Puasa Al-Imsak (Sumber: Youtube Suara Tebuireng)

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

الحمد لله الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امور الدنيا و الدين والصلاة والسلام  على اشرف الأنبياء و المرسلين سيدنا ومولانا محمد وعلى اله و صحبه    أجمعين أما بعد قال الله تعالى فى كتابه الكريم : اعوذ بالله من الشيطان الرجيم  بسم الله الرحمن الرحيم

 يا أيها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون… الاية

Pertama-tama marilah kita panjatkan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah banyak memberikan kepada kita semuanya baik kenikmatan kesehatan jasmani dan rohani dan juga hidayah, taufik dan maunahnya sehingga pada hari ini kita dapat melaksanakan puasa Ramadhan.

Kedua kalinya shalawat serta salam kita haturkan kepada nabi agung kekasih kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa ajaran agama islam yang telah memberikan uswah hasanah yang baik sekali.

Para pendengar radio suara tebuireng rahimakumullah kita harus bersyukur bahwa pada hari ini kita dapat melaksanakan puasa Ramadhan. Sungguh mulia, betapa beruntungnya orang yang mampu beribadah secara maksimal di bulan yang sangat agung ini. Puasa secara Bahasa berarti al-imsak yakni menahan. Kalau secara definisi puasa itu al-imsak ‘an jami’il mufthirot min thulu’il fajri ila ghurubis Syamsi bi niyyaatin makhshushatin, puasa itu adalah menahan diri dari segala hal-hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat yang tertentu.

Oleh karena itu secara fiqih kita harus memahami dahulu apa saja syarat-syarat wajibnya puasa sebelum kita membahas tentang fadhilah-fadhilah. Amalan-amalan apa saja, keistimewaan apa saja insyaallah nanti akan kita bahas pada pertemuan selanjutntya. Tapi yang ingin saya sampaikan disini adalah sebagai orang muslim yang harus mengetahui tentang syarat dan fardhu apa saja syarat sahnya dan syarat wajib ini menjadi penting karena amal yang tanpa dilandasi dengan ilmu maka ia tertolak alias tidak diterima.

Para pendengar suara tebuireng rahimakumullah, syarat wajib puasa itu ada empat, yang pertama adalah islam, maka tidak sah puasanya orang yang nonmuslim atau kafir atau orang yang murtad yakni orang yang keluar dari agama islam. Kemudian syarat yang kedua adalah baligh. Baligh itu ditandai dengan seseorang pernah keluar mani bagi laki-laki dan juga wanita yang sudah mengalami haidh.

Bagaimana dengan anak kecil?

Anak kecil tidak berkewajiban untuk melaksanakan puasa tetapi sebagai orang tua yang baik kita harus mendidik anak-anak kita untuk belajar melaksanakan ibadah puasa. Boleh dengan setengah hari ataupun kalau dia kuat, mungkin diiming-imingi dulu dengan reward atau hadiah, kalau dia mampu melaksanakan puasa sampai adzan maghrib, maka itu lebih baik.

Kemudian syarat yang ketiga wajib puasa itu seseorang itu harus berakal sehat, maka disini bisa dipahami orang yang gila atau orang yang terkena penyakit ayan atau epilepsi atau orang yang tidak sadar itu tidak wajib untuk melaksanakan puasa.

Kemudian yang terakhir, yang keempat, yakni dia mampu berpuasa, fisiknya sehat, tidak sedang sakit dan sebegainya.

Kemudian fardhu puasa, wajibnya puasa itu ada empat perkara. Yang pertama adalah niat, biasanya secara tradisi kita sebagai umat islam di Indonesia melaksanakan niat puasa usai shalat witir, niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةَ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Ini menurut madzhab Imam Syafii niatnya kita laksanakan, kita lafalkan bersama-sama pada malam harinya untuk esok harinya.

Tetapi kalau menurut Imam Malik itu boleh diniatkan untuk selama satu bulan penuh jaga-jaga kalau seseorang itu lupa akan niat pada malam hari. Dan yang terpenting adalah sesuai sabda Rasulullah SAW.

انما الأعمال بالنيات

Artinya: “Bahwa sesungguhnya segala amal itu tergantung dengan niatnya”

Kemudian yang kedua orang itu harus menahan diri. Puasa itu harus menahan diri dari apa?

Yakni makan, minum, kemudian bersenggama di siang hari, kemudian menyengaja muntah.  hal itu yang membatalkan puasa.

Kemudian ada hal-hal yang membatalkan puasa lagi, ada sepuluh. Yang pertama adalah segala ssuatu yang sengaja ke dalam lubang tubuh atau di kepala baik itu memasukkan obat lewat jalan depan (qubul) atau jalan belakang, yakni dubur.

Kemudian yang membatalkan puasa adalah menyengaja muntah. Seandainya dia memain-mainkan sesuatu di kerongkongannya kemudian merasa mual kemudian muntah, itu kalau disengaja maka puasanya batal.

Kemudian bersetubuh di dalam farji dengan sengaja. Kemudian mengeluarkan mani karena bersentuhan.

Bagaimana kalau keluar mani kalau tidak disengaja? Seperti tidur siang, bangun-bangun sudah basah? Hal itu tidak apa-apa karena tidak ada unsur kesengajaan.

Kemudian wanita yang haidh, wanita yang nifas, kemudian orang yang gila. Murtad, itu secara otomatis puasanya batal.

Para pendengar suara tebuireng, apa saja hal-hal yang disunnahkan dalam puasa?

Ada tiga hal yang disunnahkan, yang pertama adalah menyegerakan berbuka puasa. Jadi ketika sudah adzan segera kita membatalkan puasa namanya ta’jilul fithri yakni mendahulukan membatalkan puasa. Artinya tidah usah diselingi dengan yang lain-lain, “Ah nanti saja saya tak minum ketika iqomah, saya masih kuat”. Nah, itu justru Allah tidak suka seperti itu. Kalau sudah waktunya adzan ya disegerakan saja.

Kemudian mengakhirkan sahur. Ini kebalikannya. Jadi sahur itu lebih baik di waktu yang mendekati imsak atau setengah jam atau satu jam sebelumnya juga boleh. Kalau sahurnya jam satu atau jam dua itu terlalu dini. Atau bahkan ada orang yang tidak sahur sama sekali itu juga kurang bijak. Sahur itu banyak sekali manfaatnya biar siangnya kita kuat. Nah, yang terbaik sahur itu diakhirkan waktunya. Alarmnya di-setting, mungkin jam tiga lebih seperempaat atau jam tiga, sholat dulu, kemudian terakhir sahur, itu juga sunnah.

Kemudian kesunnahan yang lain adalah meninggalkan perkataan yang buruk atau keji. Ini yang harus kita hindari.

Apakah dia membatalkan puasa?

Puasanya tetap sah tetapi para ulama sepakat kalau orang itu masih tidak bisa meninggalkan ghibah kemudian berkata kotor, berkata keji maka pahala puasanya itu tidak mendapatkan apa apa. Dia tidak mendapatkan pahalanya puasa sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

  كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع و العطش

Artinya: “Betapa banyak orang yang melaksanakan puasa tidak mendapatkan apa-apa tetapi hanya mendapatkan rasa haus dan rasa lapar”

Itu karena apa?

Karena dia puasa tetapi tetap ngerasani orang lain, tetap ghibah, atau tetap berkata buruk dan keji.

Nah, itu yang harus kita perhatikan insyaallah besok akan ada pembahasan lagi terkait dengan puasa Ramadhan dan juga amalan-amalan lainnya.

Demikian yang bisa saya sampaikan pada kesempatan sore hari ini. Selamat menunggu waktu berbuka puasa Ramadhan.

اهدنا الصراط المستقيم ثم استفيكم

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

 

Oleh K.H A. Kanzul Fikri Pengasuh PP Al-Aqabah Kwaron Diwek Jombang

Leave a Comment

Your email address will not be published.